« Berebut “kecap No. 1” | Home | Jadikan Website Sebagai Salesman Franchise Anda! »
Kami Tidak Franchise Lagi
By Tri Raharjo | December 27, 2007
Membangun jaringan pondasi waralaba yang kokoh, dibutuhkan franchisee-franchisee hebat. Seleksi franchisee menjadi titik pijak sukses-tidaknya outlet yang ingin dikembangkan franchisor. Bagaimana dengan franchise Anda?
Beberapa bulan belakangan ini wajah Monika Klodia, sangat suntuk. Rupanya ia sangat stres mengelola franchise resto-nya. Gerai resto yang dikembangkan dengan konsep waralaba ternyata tak semulus yang diharapkan. Sukses besar melakukan penetrasi pasar dengan cepat dan mendulang berbagai fee waralaba sudah dibuang jauh-jauh. Monik mengaku, jadi franchisor tidak-lah gampang, perlu mental baja guna memecahkan permasalahan yang multidimensional. “Saya tidak tahan mengatasi franchisee-franchisee saya, lebih baik kami tidak franchise lagi” ungkapnya.
Permasalahan Monik tentunya tidak sendiri. Indikasinya nyata, ketika kita megunjungi pameran franchise di Jakarta banyaknya pewaralaba yang tidak lagi ketahuan rimbanya. Dalam sebuah kesempatan obrolan santai dengan beberapa franchisor, permasalahan seperti ini sering timbul pada waralaba pendatang baru. Karena baru berkiprah, rata-rata belum memiliki experience dalam meminang calon franchisee-nya. Kecenderungan asal comot ini yang akan menjadi bibit-bibit perselisihan.
Pemilihan franchisee bukan perkara sepele, Kenapa? Karena, seleksi franchisee menjadi titik pijak sukses-tidaknya outlet yang ingin dikembangkan franchisor. Sebab, Franchisee merupakan mitra bisnis jangka panjang dan sekaligus sebagi ujung tombak usaha franchisor. Oleh sebab itu, franchisee haruslah orang yang tepat dan dapat dipercaya. Mereka harus memiliki kemampuan sesuai keinginan franchisor, memiliki visi dan misi yang sama dan dapat bekerja sama dengan franchisor untuk menghasilkan keuntungan bersama.
Hasil riset franchise di Australia tahun 2006 dibuat oleh Lorelle Frazer, Scott Weaven, Owen Wright bisa menjadi cermin untuk membantu Anda. Dari Hasil penetiannya terungkap, ketika para franchisor diminta untuk membuat prioritas atribut-atribut yang menjadi pertimbangannya ketika melakukan penyeleksian franchisee. Atribut-atribut tersebut yang muncul secara berurutan tampak dalam tabel. Termasuk keuangan, atribut-atribut yang sangat penting apa yang Anda pertimbangkan ketika melakukan penyeleksian franchisee?
Melihat fenomena diatas saya yakin di Indonesia tidak jauh dari gambaran franchise di Australia. Sudah saatnya para franchisor mulai lebih selektif meminang calon franchisee-nya, guna membangun sistem & pondasi waralaba yang kokoh. Tentunya, diperlukan kerjasama yang berkesinambungan antara franchisor dan franchisee agar bisnisnya terus tumbuh dan mampu memuaskan kedua belah pihak. Dan tentunya cerita Monik tidak terulang di bisnis Anda. Selamat Berbisnis!
Salam Franchise,
Tri Raharjo
Pemimpin Redaksi
www.salamfranchise.com
Popularity: 6% [?]
Topik: Salam Franchise |
Artikel Terkait:
- Membangun Kemesraan, Supaya Tidak Berlalu!
- 10 Tips Memulai Bisnis Waralaba
- 10 Tips Memulai Bisnis Waralaba
- 10 Tips Memulai Bisnis Waralaba
- “Kelabakan” Mengelola Jaringan Waralaba












