Header

« Seminar wanita dan bisnis waralaba | Home | Franchise di Indonesia dan Pengertiannya »

Franchise Asing masih mendominasi

By Tri Raharjo | March 3, 2008

Perkembangan dan potensi usaha waralaba di Indonesia sangat menggiurkan. Tapi asing masing mendominasi

Usaha franchise di Indonesia mencatat pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Data yang ada menyebutkan, usaha franchise dan busieness opportunity tahun 2004 sebanyak 166 usaha. Satu tahun berikutnya (2005) angka tersebut melonjak tajam menjadi 273 usaha atau mengalami kenaikan sekitar 60%, yang sepertiganya menawarkan jenis franchise. Jika dihitung rata-rata, baik lokal maupun asing, pertumbuhan usaha franchise mencapai 10,3%.

Tahun ini (2006) usaha franchise dan busieness opportunity menunjukkan gairah yang juga menggembirakan. Indikatornya bisa dilihat dari setiap pameran franchise dan business opportunity yang diikuti penambahan partisipan baru sekitar 20%. Pertumbuhan usaha franchise itu sendiri diperkirakan masih tetap sama sekitar 10%.

Menurut Burang Riyadi, pengamat bisnis waralaba dari IFBM, perkembangan industri franchise di Indonesia tidak lepas dari meningkatnya publikasi dan sosialisasi yang dilakukan berbagai kalangan termasuk media massa. Plus, berbagai fasilitas dan stimulasi yang diberikan pemerintah dan dunia perbankan. Serta, kegiatan yang berkaitan dengan usaha waralaba seperti ajang pameran yang semakin marak sehingga mengedukasi publik untuk terjun ke dunia bisnis franchise.

Selain itu, gairah bisnis waralaba juga dipicu oleh cara pandang pengusaha-pengusaha lokal yang menganggap franchise sebagai alternatif paling cepat pengembangan usaha. Dalam hal ini, pengusaha-pengusaha lokal memahami bahwa pengembangan usaha yang tidak menggunakan pola waralaba mengalami hambatan, terutama dari sisi modal. Dengan menggunakan pola waralaba, pengembangan usaha bisa lebih cepat karena menggunakan modal investor (franchisee).

Asing mendominasi

Perkembangan usaha waralaba yang sangat menggembirakan ini masih didominasi oleh pemain-pemain asing. Dilihat dari sisi pertumbuhannya, usaha waralaba asing mencapai 15%, sedangkan usaha waralaba lokal hanya mencatat pertumbuhan kurang dari setengahnya atau sekitar 7%. Pertumbuhan yang tidak sama ini disebabkan berbagai faktor. Usaha waralaba lokal sebagian besar belum memenuhi kriteris franchise. Walaupun usaha lokal itu sudah memiliki kemitraan dengan pihak lain, memiliki nama (merek) dan usaha yang unggul serta proven, tetapi kemitraannya banyak bersifat kongsi atau bagi hasil.

Berbeda dengan usaha lokal, waralaba asing lebih mendapatkan tempat di pasar nasional. Berdasarkan data riset yang pernah dilakukan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), pengusaha lokal lebih cenderung memilih franchise asing karena dinilai lebih dapat diandalkan, terbukti telah berhasil dan berpengalaman. Hasil penelitian menunjukkan, para poengusaha lokal memilih franchise asing karena akuntabilitas dan memberi image (citra atau gengsi) bagi franchisee.

Bagi pemain asing sendiri, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial. Hal itu dapat dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa . Dari jumlah itu, kelas menengahnya mencapai 15-17% dengan struktur usia di bawah 30 tahun kurang dari 50%. Dengan potensi pasar yang besar ini dan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pengusaha lokal, tidak mengherankan jika juml;ah waralab asing jauh lebih besar.

Tantangan

Menurut Burang Riyadi, peluang paling besar tahun ini masih akan dinikmati oleh industri kananan. Meskipun, industri di sektor jasa seperti pendidikan anak, salon, bengkel dan brokerage juga dilihatnya akan mencatat pertumbuhan yang lebih cepat. “Industri makanan masih akan cenderung meningkat dan prospektif. Tetapi juga industri disektor jasa akan lebih cepat lagi pertumbuhannya,” katanya.

Selain itu, di situasi ekonomi yang masih belum pulih, ada sejumlah usaha yang cukup menjanjikan, yaitu usaha-usaha yang mengarah kepada peningkatan efisiensi. Contohnya, air minum isi ulang, isi ulang tinta printer, jasa kurir dan penyewaan kendaraan.

Tantanganya sendiri, menurut Burang terletak pada wawasan para pelaku yang perlu ditingkatkan. Dalam hal ini, masyarakat calon franchisee, para franchisor dan instansi pemerintah yang menangani dan memberikan perhatian pada bidang franchise. Burang mengingatkan, jangan sampai berkembang praktek menjual usaha franchise yang “asal-asalan” sehingga tidak menghasilkan kualitas usaha yang baik dan akhirnya mejatuhkan citra system usaha franchise.

Sumber: Majalah Info Franchise

Popularity: 6% [?]

Topik: Franchising |

Artikel Terkait:

Comments

You must be logged in to post a comment.