Header

« Bob Sadino dan Joger Berbagi Kiat Sukses Bisnis | Home | Entrepreneurship »

Rhenald Kasali; Pilih Franchisee yang Punya Jiwa Entrepreneurship

By Tri Raharjo | May 28, 2008

Industri franchise bisa melahirkan banyak entrepreneur di Indonesia. Karena sejatinya, para franchisee yang membeli hak waralaba dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menjalankan bisnisnya. Hanya saja, para franchisee harus tunduk pada kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh franchisor. Tujuannya agar standarisasi merek bisa tetap terjaga.

Namun sangat disayangkan jika franchisor tidak memberikan ruang agar franchisee bisa meng-eksplore kemampuan bisnisnya. Padahal, bisa jadi hal itu dibutuhkan agar bisnis yang dijalankan franchisee lebih berkembang.
Lagipula, pelaku usaha, dalam hal ini franchisee yang memiliki jiwa wirausaha akan lebih menjiwai bisnisnya ketimbang mereka yang tidak. Terutama di industri yang persaingannya semakin hebat. Benarkah industri bisa melahirkan para entrepreneur. Ikuti wawancara wartawan Info Franchise Indonesia, Majid dengan pengamat franchise, Rhenald Kasali. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri franchise di Indonesia?
Menurut saya sangat menggembirakan, progresif dan orang sudah mulai mengejar standar dalam berbisnis.
Menurut Anda, apakah bisnis franchise bisa menumbuhkan entrepeneur-entrepreneur baru di Indonesia?
Ya dan tidak. Ya, kalau memang orang yang memberikan franchise itu (franchisor) memberi ruang kepada kita (baca: franchisee) untuk mengeksplorasi entrepreneurship. Tidak, kalau orang yang memberikan franchisenya hanya bertujuan semata-mata untuk memperluas pasar. Setelah itu tidak ada pertanyaan, yang penting dia sudah terima uangnya dengan standar seperti apa yang sudah ada. Selebihnya ya sudah Anda ikuti saja, dan gak usah ngapa-ngapain.

Bagaimana seharusnya?
Jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita harus ingat bahwa kalau bisnis itu mau bergerak sendiri, maka harus ada pemilihan yang selektif. Orang yang diangkat (franchisee) itu orang yang harus sudah punya jiwa kewirausahaan. Jadi mustahil orang yang tadinya birokrat, kemudian bekerja dan pikirannya masih birokratik bisa jadi entrepreneur. Tidak bisa. Dan tidak mungkin. Franchisee pada dasarnya harus diseleksi dulu. Kalau saya mau menawarkan franchise, saya kasih syarat-syarat. Dan orang itu harus saya seleksi dulu.

Ada anggapan bahwa kalau franchisee terlalu kreatif dan punya jiwa entrepreneur terlalu tinggi bisa membingungkan franchisor dan standarisasi yang sudah terbangun menjadi kacau? Apa pendapat anda?
Bisa iya, kalau perjanjiannya tidak kuat dan persepsinya tidak sama. Tetapi, bisa juga malah menumbuh-kembangkan bisnisnya. Saya kasih contoh, Mc Donald itu mengangkat SDM dari dari orang-orang yang kreatif. Tetapi dia juga minta orang itu punya disiplin, bukan orang yang maunya sendiri. Semuanya harus ada mekanisme, sehingga tidak jadi membingungkan. Harus ada standar. Kalau tidak diatur standarnya orang bisa semaunya sendiri.

Menurut Anda bagaimana bisnis franchise di Indonesia dibandingkan di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia?
Saya kira sama menariknya. Di Indonesia sekarang sedang tumbuh-tumbuhnya. Cuma masalahnya di Indonesia perkembangan mal sangat lambat. Tetapi itu ada banyak persoalan karena pasar tradisional di Indonesia tidak dibangun. Kalau di luar negeri mal dibangun, pasar tradisional tetap dijaga. Tetapi di Indonesia. Sewa tempat di mal mahal. Jadi orang yang mau mengembangkan itu masih terhambat oleh sewa tempat. Atau dia harus menunggu lama untuk mendapatkan tempat yang baik. Tapi kalau dilihat dari gairah masyarakatnya sama saja orang kita juga sudah suka makanan variatif, produk-produk variatif. Segala sesuatu yang mereka lihat di luar negeri, di media cetak atau di televisi mereka ingin menikmati. Jadi, gairahnya sama.

Bagaimana agar bisnis ini bisa lebih tumbuh?
Saya kira partisipasi dari pelaku-pelaku lokal itu sangat penting sekali. Tidak bisa hanya mengandalkan franchisor dari luar negeri. Saya masih menanti-nanti Bakmi Gajah Mada segera difranchise sebelum masyarakat di negara ini tua. Jadi yang lokal-lokal ini harus terus ditumbuhkan Gado-Gado Boplo sudah mulai.

Bagaimana dengan peran dari pemerintah?
Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah. Pemerintah itu tidak ngerti bisnis. Jangan terlalu berharap banyak pada pemerintah. Yang lebih penting komunitas itu menjaga etikanya, tidak perlu pakai undang-undang. Mereka sendiri yang jaga karena mereka ini yang berkepentingan terhadap tumbuhnya usaha. Jamannya sekarang bukan jaman proteksi, bukan intensif. Sekarang jamannya bisnis di depan politik di belakang. Kalau pemerintah politiknya di depan bisnisnya di belakang.

Di Indonesia, kebanyakan yang menyatakan franchise sebenarnya BO (business opportunity). Bisakah ditolelir?
Yang mengatakan itu franchise atau tidak kan harus jelas siapa. Kalau menurut saya serahkanlah kepada pasar. Kalau pasarnya mengatakan oke, maka ia akan diterima dan berkembang. Kalau dia main-main akan mati sendiri. Jadi let the market decide.

Bagaimana agar klaim franchise bisa lebih dipertanggung-jawabkan? Darimana memulainya?
Semua harus dimulai dari standar yang jelas. Standarnya harus lebih tinggi dari yang biasa. Apa saja yang biasa di franchise harus berada di atasnya. Jadi kalau orang lain bilang kami sudah uji laboratorium maka kemudian dia uji klinis. Kalau ada yang mengatakan kami ini pelayanannya sudah bersih, harus bersih di semua titik. Ada lagi yang berkata makanan kami sehat untuk dikonsumsi dalam tempo waktu 2×24 jam, ini tidak boleh lagi. Tetapi harus mengatakan hanya kami sediakan dalam tempo dua jam. Dua jam sudah tidak fresh, akan kami buang. Jadi para franchisor itu harus menuntut dirinya dengan standar yang tinggi. Baik itu dalam produk, service, display, aroma, dalam manajemen dan dalam berbagai hal.

Tepatkah menurut Anda memulai bisnis dengan membeli hak waralaba? Mengapa?
Bisa saja. Tetapi dengan nilai berapa kita harus beli. Kan ada standarnya. Kalau sekarang Mc Donald mau masuk di Irian, orang mau beli dengan harga berapa. Dia harus bayar royalty. Ketika Bread talk baru mulai, saya dengar jauh lebih mahal dibanding Bapak Bambang Rahmadi beli Mc Donald. Tapi ini kan entrepreneurship yang bermain Jhony Andrean. Dia bilang oke, berani beli mahal, tidak apa-apa. Dia menjamin bisa melakukannya. Dia punya keberanian di situ.

Di mana kelebihan-kelebihan bisnis dengan pola waralaba?
Yang pertema, tentu saja produk akan menjadi lebih standar. Kedua, kita akan menjadi lebih cepat membuka cabang. Karena resiko modal bisa diminimalkan. Kita tidak perlu pinjam uang kepada Bank, karena kita berbagi hasil. Ketiga, brand kita bisa lebih berkibar. Orang yang punya franchise tentunya tidak akan menyembunyikan mereknya di bawah langitnya. Tapi diangkat dan diletakan di tempat yang strategis. Tahap berikutnya bagi si franchisee dia akan merasa dirinya berada dalam payung yang lebih besar. Dia punya knowledge yang dibantu karena standar produknya, caranya dan sebagainya.

Benarkah memulai bisnis dengan membeli hak waralaba lebih menjanjikan?
Kembali ke jawaban saya yang semula. Bisa ya, bisa tidak. Kalau Anda beli waralaba yang sudah declining, mau diapain lagi, ya, susah. Tetapi kalau sedang, seperti Mc Donald 10 tahun yang lalu dengan sekarang, ya beda. Sepuluh tahun yang lalu masyarakat kita sedang tumbuh-tumbuhnya, mereka ingin cari kelas. Kalau sekarang sudah biasa kan.

Saran Anda terhadap para pelaku di industri ini?
Untuk franchisornya. Pertama, mereka harus meningkatkan dulu standar yang tinggi, jangan main sembarangan. Kedua, dia harus punya learning center, jangan cuma mengandalkan dirinya saja. Saya tahu ada sejumlah orang yang one man show, dia sendiri yang pergi ke mana-mana. Akhirnya energinya habis. Dia sakit, ya perusahaan juga sakit. Dia mati, ya, perusahaan juga mati. Jadi harus ada learning center yang terdiri dari berbagai pihak yang mengerti product development. Yang ketiga, pilihlah calon franchisee yang dapat diandalkan, jangan dilepas sembarangan. Keempat, berikan harga yang wajar dalam mengangkat franchisee, jangan ingin cepat tumbuh, tetapi kemampuan logistik dan knowledge-nya tidak memadai.

Sumber: Majalah Info Franchise 021-68295632/34 (www.majalahfranchise.com)

Popularity: 26% [?]

Topik: Franchising |

Artikel Terkait:

Comments

You must be logged in to post a comment.