« Belajar dari “Hamburger University” | Home | Lari dari “BOM Waktu” Kegagalan! »
Membangun Kemesraan, Supaya Tidak Berlalu!
By Tri Raharjo | July 15, 2009
Membangun Kerajaan Franchise (05)
Membangun Kemesraan, Supaya Tidak Berlalu!
Sering saya dengar dari para pebisnis franchise, hubungan franchisor-franchisee diibaratkan seperti pasangan hidup atau suami istri. Pendapat tersebut tidak keliru. Hal tersebut tidak hanya berlaku di Indoensia tapi di Amerika. Hal senada juga diungkap oleh Tandai Siebert seorang CEO iFranchise Group Inc “Time and time again, we have often heard people compare the franchisor-franchisee relationship to that of a marriageBerkali-kali, kami sering mendengar orang membandingkan franchisor-franchisee sebagai hubungan suatu perkawinan”.
Idealnya, jika bisnis franchise diidentikan dengan hubungan suami istri maka selayaknya, franchisor dan franchisee saling menghargai, menghormati dan menyayangi. Jangan sedikit-dikit ngambeg minta cerai atau putus hubungan. Menilik hal tersebut, jelas kThey will talk about the “honeymoon” period and how the franchisor and franchisee are in “partnership” together for a common purposeomunikasi yang baik adalah kunci dalam menjaga hubungan berbisnis franchise.
Hanya saja, patut dicatat didalam bisnis franchise tidak hanya komunikasi dengan satu franchisee malainkan puluhan, ratusan bahkan ribuan. Boleh jadi, franchisor perlu memformulakan komunikasi yang jitu untuk menciptakan good relationship dengan franchisee-nya. Pasalnya, hubungan yang baik merupakan pondasi utama dalam membangun hubungan jangka panjang di bisnis franchise.
Tak heran, peran franchisor dalam membangun hubungan dengan franchisee jadi peran utama. Tentu, Anda bisa bisa memulai dengan hal-hal yang sederhana, seperti pengiriman kartu selamat ulang tahun, kartu ucapan hari raya atau bisa saja sekedar menanyakan kabar. Terlebih dengan kemudahan tehnologi informasi yang semakin canggih dan murah. Anda bisa menjalin hubungan yang lebih intim lewat telpon, Yahoo Mesengger (YM), BlackBerry atau facebook.
Menilik system franchise yang dilandasi oleh perjanjian selama masa periode tertentu maka, perlu adanya kejelasan hak & kewajiban antara franchisor-franchisee. Keduanya diperlukan sikap keterbukaan dan kepercayaan yang menghasilkan win-win relationship. Ada 7 (tujuh) cara yang saya amati sering digunakan oleh para franchisor dalam membangun hubungan dengan franchisee-nya antara lain:
- Adakan pertemuan rutin dengan franchisee Anda. Anda bisa melakukan setiap bulan, tiga bulanan atau momen momen tertentu yang telah ditentukan.
- Mengundang seluruh franchisee setahun sekali untuk diadakan franchisee gathering, sekaligus digunakan untuk pembahasan program 1 tahun kedepan.
- Membangun media komunikasi melalui telpon, website, news letter, sms blast, fax, e-mail, dll.
- Memperingati hari besar secara bersama (seluruh franchisee). Mis: Halal Bihalal, Buka Puasa bersama, Natal, dll.
- Selalu melibatkan franchisee dalam membuat program-program baru yang akan berdampak pada gerai franchisee serta melibatkan dalam program cross database untuk program marketing.
- Membuat hotline untuk mempermudah franchisee berkomunikasi dengan franchisor. Sebaiknya gunakan provider telpon yang sama untuk mengurangi beban biaya telepon.
- Selalu mengadakan kontroling dan monitoring secara berkala sesaui dengan jadwal yang sudah ditetapkan.
Tentu cara diatas tidak menihilkan konflik. Konflik juga bisa diibaratkan sebagai penyedap dalam sebuah hubungan. Hanya saja, diperlukan managing konflik yang baik untuk mengatasi setiap problem yang dihadapi. Speed dalam mengatasi problem akan meminimize konflik yang semakin besar. Perlu dicatat, apapun komplain dari franchisee merupakan koreksi bagi franchisor untuk berbuat lebih baik dalam memberikan support yang prima.
Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi berbagai masalah dalam bisnis franchise antara lain:
- Selesaikan masalah dengan cara kekeluargaan dan musyawarah (win-win solution).
- Mencari akar masalah dan melakukan breakdown akar permasalahan, lalu memilah masalah-masalah tersebut untuk disampaikan dan diselesaikan oleh masing masing divisi.
- Segera selesaikan komplain baik melalui telpon, surat, e-mail atau tatap muka secara langsung.
- Membuat hotline franchisee care, untuk memudahkan kalau terjadi komplain yang masuk dan akan diteruskan kepada masing masing divisi.
- Membicarakan dan menyamakan persepsi dengan pihak mitra mengenai solusi dari maslaah yang muncul untuk mencapai tujuan bersama.
- Franchisee care, akan korscek kepada franchisee apakah permasalahannya sudah diselesaikan dengan baik atau tidak.
- Meluangkan waktu khusus untuk one to one dengan franchisee untuk memecahkan permasalahan yang besar serta meminta pendapat dari franchise konsultan jika dirasa diperlukan.
Sebagai catatan akhir, ketika franchisee masih memberikan komplain berarti mereka masih care pada bisnis franchise Anda. Selamat membangun kemesraan di bisnis franchise supaya bisnis Anda tidak berlalu. Selamat berbisnis!
Salam Franchise,
Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi
Majalah Info Franchise
www.majalahfranchise.com
Popularity: 7% [?]
Topik: Salam Franchise |
Artikel Terkait:
- Menjaga Hubungan Baik Dengan Franchisor
- Bisnis Franchise, bisnis “pisau bermata dua”
- 10 Jurus Jawara Top Franchise 2008
- 10 Jurus, Jawara Top Franchise 2008
- Franchisee satisfaction is everything
2 Responses to “Membangun Kemesraan, Supaya Tidak Berlalu!”
Comments
You must be logged in to post a comment.













November 4th, 2009 at 2:27 am
saya conceptor dari sebuah perusahaan kecil (bussines group)
saya salah seorang yang sering membaca tulisan mas tri raharjo, trimakasih banyak.. tulisan-tulisan mas tri raharjo memotivasi dan mengoreksi perjalanan bisnis franchise saya.
- saya mau tanya mas, bagaimana cara yang paling efektif untuk mendapatkan calon franchisee yang benar-benar serius, dan bagaimana cara untuk meyakinkanya.
trimakasih banyak.
March 24th, 2010 at 7:53 am
Pak Tri Raharjo,
Saya ada beli barang (dia sebut waralaba dan tercatat di bursa franchise), tapi susah dihubungi ketika ada masalah. Lalu tiap x di komplain, selalu berkilah dan akhirnya membiarkan saja tanpa solusi dan komunikasi. Saya khawatir jika suatu saat nanti terjadi hal fatal dan tidak bisa dihubungi, bagaimana ya? Lantas kenapa dengan servis yang sangat tidak memuaskan ini bisa dijadikan waralaba?
Terima kasih atas tanggapannya.